BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
1.
Kemerdekaan
Kemerdekaan adalah dimana seseorang
mendapat hak untuk mengendalikan dirinya sendiri tanpa campur tangan orang lain
dan atau tidak bergantung pada orang lain. Begitu pun dengan kemerdekaan sebuah
Negara yaitu kemerderkaan sebuah Negara meraih hak kendali atas seluruh wilayah
bagian negaranya.
2.
Indonesia
Republik Indonesia disingkat RI atau Indonesia adalah
negara di Asia Tenggara,
yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra
Pasifik dan Samudra
Hindia. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari
13.487 pulau, oleh karena itu ia disebut juga sebagai Nusantara ("pulau luar", di samping
Jawa yang dianggap pusat). Dengan populasi sebesar 222 juta jiwa pada tahun
2006. Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan negara
yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, meskipun secara
resmi bukanlah negara Islam.
Bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik,
dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Presiden yang
dipilih langsung. Ibukota negara ialah Jakarta. Indonesia berbatasan dengan Malaysia di Pulau
Kalimantan, dengan Papua Nugini di Pulau Papua dan dengan Timor Leste di Pulau Timor.
Negara tetangga lainnya adalah Singapura, Filipina, Australia,
dan wilayah persatuan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India.
Sejarah
Indonesia banyak dipengaruhi oleh bangsa lainnya. Kepulauan Indonesia menjadi
wilayah perdagangan penting setidaknya sejak abad ke-7, yaitu ketika Kerajaan Sriwijaya di Palembang menjalin hubungan agama dan
perdagangan dengan Tiongkok dan India. Kerajaan-kerajaan Hindu danBuddha telah tumbuh pada awal abad Masehi,
diikuti para pedagang yang membawa agama Islam, serta berbagai
kekuatan Eropa yang saling bertempur untuk memonopoli
perdagangan rempah-rempah Maluku semasa era penjelajahan samudra.
Setelah berada di bawah penjajahan Belanda, Indonesia yang saat
itu bernama Hindia
Belanda menyatakan kemerdekaannya di akhir Perang Dunia
II. Selanjutnya Indonesia mendapat berbagai hambatan, ancaman dan
tantangan dari bencana alam, korupsi, separatisme, proses demokratisasi dan
periode perubahan ekonomi yang pesat.
Dari Sabang sampai Merauke,
Indonesia terdiri dari berbagai suku, bahasa dan agama yang berbeda. Suku Jawa adalah grup etnis terbesar dan secara politis
paling dominan. Semboyan nasional Indonesia, "Bhinneka tunggal ika" ("Berbeda-beda tetapi tetap
satu"), berarti keberagaman yang membentuk negara. Selain memiliki
populasi padat dan wilayah yang luas, Indonesia memiliki wilayah alam yang
mendukung tingkatkeanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia.
Indonesia
juga anggota dari PBB dan satu-satunya anggota yang pernah
keluar dari PBB, yaitu pada tanggal 7 Januari 1965, dan bergabung
kembali pada tanggal 28 September 1966 dan Indonesia tetap dinyatakan sebagai
anggota yang ke-60, keanggotaan yang sama sejak bergabungnya Indonesia pada
tanggal 28 September 1950. Selain PBB, Indonesia juga
merupakan anggota dari ASEAN, APEC, OKI, G-20 dan akan menjadi anggota dari OECD.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1. Mengkaji
berbagai peristiwa penting seperti proklamasi kemerdekaan Indonesia (1945),
peristiwa rengasdengklok, perumusan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia,
pembacaan proklamasi, sambutan rakyat Indonesia terhadap proklamasi, sidang
pertama PPKI tanggal 18 Agustus 1945.
2. Membahas
berbagai peristiwa seputar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (1945), Peristiwa
Rengas Dengklok, Perumusan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Pembacaan
Proklamasi, Sambutan rakyat indonesia terhadap proklamasi dan sidang pertama
PPKI tanggal 18 Agustus 1945.
C.
TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan dalam makalah ini adalah :
1.
Mengetahui lebih dalam
tentang berbagai peristiwa, diantaranya :
a.
Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia (1945)
b.
Peristiwa Rengas
Dengklok
c.
Perumusan Teks
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
d.
Pembacaan Proklamasi
e.
Sambutan rakyat
Indonesia terhadap Proklamasi
f.
Sidang pertama PPKI
tanggal 18 Agustus 1945
2.
Prasyarat memenuhi
tugas mata kuliah pendidikan sejarah, yakni “Sejarah Pergerakan Kebangsaan Indonesia”.
D.
SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
B.
RUMUSAN MASALAH
C.
TUJUAN PENULISAN
D.
SISTEMATIKA PENULISAN
BAB II PEMBAHASAN
A.
PERISTIWA-PERISTIWA SEKITAR PROKLAMASI KEMERDEKAAN 17
AGUSTUS 1945
1.
Peristiwa-peristiwa
Menjelang Kemerdekaan
1.1. Jepang
menyerah kepada sekutu
1.2. Peristiwa
Rengasdengklok
2.
Pernyataan Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia
3.
Penyebaran Berita
Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945
4.
Sambutan Rakyat di
Berbagai daerah Terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
4.1. Rapat
Raksasa di Lapangan Ikada
4.2. Tindakan
heroic mendukung proklamasi
B.
PROSES PEMBENTUKAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA
1.
Pembentukan
Kelengkapan Pemerintahan
2.
Pembentukan Komite
Nasional Indonesia
3.
Pembentukan Alat
Kelengkapan Keamanan Negara
4.
Dukungan Daerah
terhadap Pembentukan Negara kesatuan Republik Indonesia
4.1. Keraton
Kasultanan Jogjakarta
4.2. Sumatra
mendukung pemerintah Republik Indonesia
4.3. Silawesi
Utara mendukung pemerintah Republik Indonesia
5.
Pembentukan Lembaga
Pemerintahan di Seluruh Daerah di Indonesia
BAB III PENUTUP
A.
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
PERISTIWA
– PERISTIWA SEKITAR PROKLAMASI KEMERDEKAAN 17 AGUSTUS 1945
1.
Peristiwa-peristiwa
Menjelang Kemerdekaan
Adapun peristiwa-peristiwa
yang terjadi menjelang Proklamasi Kemerdekaan antara lain :
1.1. Jepang menyerah kepada sekutu
Akibat
pemboman Kota Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika mengakibatkan Jepang
kehilangan kekutan, sehingga Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada
tanggal 14 Agustus 1945.
Pada
pertemuan di Saigon (Vietnam) tanggal 11 Agustus 1945 pukul 11.40 waktu
setempat kepada para pemimpin bangsa Indonesia (Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta
dan Dr. Radjiman Wediodiningrat), Jendral Besar Terauchi menyamapaikan hal-hal
berikut :
1) Pemerintah
jepang memutuskan memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia.
2) Untuk
melaksanakan kemerdekaan dibentuk PPKI sebagai pengganti BPUPKI.
3) Pelaksanaan
kemerdekaan segera dilakukan setelah persiapan selesai dilakukan dan secara berangsur-angsur
dari pulau jawa, baru disusul oleh pulau lainnya.
4) Wilayah
Indonesia akan meliputi seluruh bekas wilayah Hindia Belanda/
5) Pada
tanggal 7 Agustus 1945 diumumkan pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (PPKI) atau Docuritsu Junbi Inkai.
PPKI diketuai Ir. Soekarno dan wakil ketuanya Drs. Moh. Hatta
1.2.
Peristiwa Rengasdengklok
Setelah
mendengar berita Jepang menyerah kepada sekutu, bangsa Indonesia mempersiapkan
dirinya untuk merdeka. Waktu yang singkat itu dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Perundingan-perundingan diadakan diantara para pemuda dengan tokoh-tokoh tua,
maupun dianatara pamuda sendiri. Walaupun demikian, diantara tokoh pemuda
dengan golongan tua sering terjadi perbedaan pendapat, akibatnya trjadilah
“Peritiwa Rengasdengklok”.
Pada
tanggal 16 Agustus pukul 14.00 WIB, Bung Hatta dan Bung Karno beserta Ibu
Fatmawati dan Guntur Soekarno Poetra dibawa pemuda ke Rengasdengklok, kota
kawedanan di pantai utar Kabupaten karawang, tempat kedudukan cudan (kompi) tentara Peta. Tujuan
peristiwa ini dilatar belakangi oleh keinginan pemuda yang mendesak golongan
tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Pemuda membawa Bung
Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok agar tidak terpengaruh oleh Jepang.
Setelah melalui perdebatan dan ditengah-tengah Ahmad Soebardjo, menjelang malam
hari, kedua tokoh itu akhirnya kembali ke Jakarta.
Rombongan
Soekarno – Hatta sampai di Jakarta pada pukul 23.30 waktu zaman Jepang (pukul
23.00). soekarno – Hatta setelah singgah di rumah masing-masing, kemudian
bersama rombongan lainnya menuju rumah Laksamana Maeda di jalan Imam Bonjol No.
1 Jakarta. (tempat Ahmad Soebardjo bekerja) untuk merumuskan teks Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia. Malam itu juga segera diadakan musyawarah. Tokoh-tokoh
yang hadir saat itu ialah, Ir. Soekarno, Drs. Mohammad hatta, Ahmad Soebardjo,
para anggota PPKI, dan para tokoh pemuda seperti Sukarni, Sayuti Melik, B.M.
Diah dan sudiro. Tokoh-tokoh yang merumuskan teks proklamasi berada di ruang
makan. Adapun tokoh yang menulis teks proklamasi adalah Ir. Soekarno, sedangkan
Drs. Moh. Hatta dan Ahmad Soebardjo turut mengemukakan ide-idenya secara lisan.
Perumusan
teks proklamasi sampai dengan penandatanganannya baru selesai pukul 04.00 WIB
pagi hari, tanggal 17 Agustus 1945. Pada saat itu juga telah diputuskan bahwa
teks proklamasi akan dibacakan di halaman rumah Ir. Soekarno di jalan
Pegangsaan Timur 56 jakarta pada pagi hari pukul 10.00 WIB.
2.
Pernyataan
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Pelaksanaan
pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan dilaksanakan pada hari jum’at tanggal
17 Agustus 1945. Sejak pagi telah dilakukan persiapan di rumah Ir. Soekarno,
untuk menyambut Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Banyak tokoh pergerakan
nasional beserta rakyat berkumpul di tempat itu. Mereka ingin menyaksikan
pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Sesuai
kesepakatan yang diambil di rumah laksamana Maeda, para tokoh Indonesia
menjelang pukul 10.30 waktu Jawa zaman Jepang atau 10.00 WIB telah berdatangan
ke rumah Ir. Soekarno. Mereka hadir hadir untuk menjadi saksi pembacaan teks
proklamasi kemerdekaan Indonesia
Acara yang disusun
dalam upacara di kediaman Ir. Soekarno itu, antara lain :
a. Pembacaan
teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
b. Pengibaran
bendera Merah Putih
c. Sambutan
Wali Kota Suwiryo dan dr. Muwardi
Upacara
proklamasi kemerdekaan berlangsung tanpa protocol. Latief Hendraningrat member
aba-aba siap kepada seluruh kepada seluruh barisan pemuda. Semua yang hadir
berdiri tegak dengan sikap sempurna. Suasana menjadi sangat hening. Ir.
Soekarno dan Drs. Moh. Hatta dipersilahkan maju beberapa langkah dari tempatnya
semula. Ir. Soekarno mendekati mikrofon. Dengan suaranya yang mantap, Ir.
Soekarno dan didampingi Drs. Moh. Hatta membacakan teks proklamasi kemerdekaan
Indonesia.
Saudara-saudara sekalian!
Saya telah meminta Anda untuk hadir di sini
untuk menyaksikan peristiwa dalam sejarah kami yang paling penting.
Selama beberapa dekade kita, Rakyat Indonesia,
telah berjuang untuk kebebasan negara kita-bahkan selama ratusan tahun!
Ada gelombang dalam tindakan kita untuk
memenangkan kemerdekaan yang naik, dan ada yang jatuh, namun semangat kami
masih ditetapkan dalam arah cita-cita kami.
Juga selama zaman Jepang usaha kita untuk
mencapai kemerdekaan nasional tidak pernah berhenti. Pada zaman Jepang itu hanya
muncul bahwa kita membungkuk pada mereka. Tetapi pada dasarnya, kita masih
terus membangun kekuatan kita sendiri, kita masih percaya pada kekuatan kita
sendiri.
Kini telah hadir saat ketika benar-benar kita
mengambil nasib tindakan kita dan nasib negara kita ke tangan kita sendiri.
Hanya suatu bangsa cukup berani untuk mengambil nasib ke dalam tangannya
sendiri akan dapat berdiri dalam kekuatan.
Oleh karena semalam kami telah musyawarah dengan
tokoh-tokoh Indonesia dari seluruh Indonesia. Bahwa pengumpulan deliberatif
dengan suara bulat berpendapat bahwa sekarang telah datang waktu untuk
mendeklarasikan kemerdekaan.
Saudara-saudara:
Bersama ini kami
menyatakan solidaritas penentuan itu.
Dengarkan proklamasi
kami:
PROKLAMASI
KAMI BANGSA INDONESIA DENGAN INI MENYATAKAN
KEMERDEKAAN INDONESIA. HAL-HAL YANG MENGENAI PEMINDAHAN KEKUASAAN DAN LAIN-LAIN
DISELENGGARAKAN DENGAN CARA SAKSAMA DAN DALAM TEMPO YANG SESINGKAT-SINGKATNYA.
DJAKARTA, 17 Agustus 1945
ATAS NAMA BANGSA INDONESIA
SUKARNO-HATTA
SUKARNO-HATTA
Jadi, Saudara-saudara!
Kita sekarang sudah
bebas!
Tidak ada lagi
penjajahan yang mengikat negara kita dan bangsa kita!
Mulai saat ini kita
membangun negara kita. Sebuah negara bebas, Negara Republik Indonesia-lamanya
dan abadi independen. Semoga Tuhan memberkati dan membuat aman kemerdekaan kita
ini!
Sesaat
setelah pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan dilanjutkan upacara pengibaran
bendera Merah Putih. Bendera Sang saka Merah Putih itu dijahit oleh ibu
Famawati Soekarno. Suhud mengambil bendera diatas baki (nampan) yang telah
disediakan dan mengibarkannya dengan bantuan Shodanco Latief Hendraningara.
Kemudian Sang Merah Putih mulai dinaikkan dan hadirin yang datang bersama-sama
menyanyikan lagu Indonesia Raya. Bendera dinaikkan perlahan-lahan menyesuaikan
syair lagu Indonesia Raya.
Seusai
pengibaran bendera Merah Putih acara dilanjutkan sambutan dari Wali Kota
Suwiryo dan dr. Muwardi. Pelaksanaan upacara Proklamasi kemerdekaan Indonesia
dihadiri oleh tokoh-tokoh Indonesia lainnya, seperti Mr. latuharhary, ibu
Fatmawati, Sukarni, dr. Samsi, Ny. S.K. trimurti, Mr. A.G. pringgodigdo, dan
Mr. sujono.
3.
Penyebaran
Berita Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945
Sesaat
setelah teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan, berita proklamasi disebarluaskan
secara cepat oleh segala lapisan masyarakat di sekitar Jakarta, terutama oleh
para pemuda. Para pemuda menyeberkan berita proklamasi melalui berbagai cara,
antara lain menyebar pamphlet, mengadakan pertemuan, menulis pada
tembok-tembok.
Teks
proklamasi yang telah dirumuskan pada tanggal 17 Agustus 1945 beberapa saat
kemudian berhasil diselundupkan ke kantor pusat pemberitaan jepang, Domei
(sekarang Kantor berita Antara). Sekitar pukul 18.30 WIB Wartawan Kantor Berita
Domei, Syahruddinberhasil menyelundupkan teks proklamasi dan diterima oleh
Kepala Bagian Radio, Waidan B. palenewen. Teks proklamasi tersebut kemudian
diberikan kepada F. Wuz, seorang markonis kantor berita tersebut untuk segera
diudarakan.
Pucuk
pimpinan tentara jepang di jawa segera memerintahkan untuk meralat berita
proklamasi dan menyatakan sebagai kekeliruan agar tidak berdampak luas. Pada
tanggal 20 Agustus 1945, pemancar radio disegel, para pemuda tidak kehilangan
akal. Mereka membuat pemancar baru dengan bantuan teknisi radio, seperti
sukarman, sutanto susiloharjo dan suhandar. Alat pemancar radio yang diambil
dari kantor Berita Berita Domei sebagian dibawa ke rumah Waidan B. palenewen
dan sebagian ke Menteng 31. Di enteng 31 itulah para pemuda merakit pemancar
radio baru dengan kode panggilan WKI. Dari pemancar radio inilah, berita
proklamasi terus disiarkan.
Tokoh-tokoh
Indonesia yang bekerja di stasiun radio milik Jepang dan berjasa menyebarkan
berita proklamasi, antara lain Maladi, Yusuf Ronodipuro, Sakti Alamsyah dan Suryodipuro.
Maladi kemudian memprakarsai pendirian Radio Republik Indonesia pada tanggal 11
September 1945.
Berita
proklamasi kemerdekaan Indonesia juga disebarakan melalui beberapa surat kabar.
Harian Soeara Asia di Surabaya adalah
Koran pertama yang menyiarkan berita proklamasi. Para pemuda yang berjuang
lewat pers, antara laim B.M. Diah, Sukarjo Iskandardinata, G.S.S.J. ratulangi,
Adam Malik, Sayuti Melik, Sutan Syahrir, Madikin Wonohito, Sumanang SM, Manai
Sophiah dan Ali Hasyim.
Pihak
pemerintahan Republik Indonesia juga menugaskan kepada para gubernur yang telah
dilantik pada tanggal 22 September 1945 untuk segera kembali ke tempat tugasnya
masing-masing guna menyebarluaskan berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di
wilayahnya. Tokoh-tokoh tersebut, antara lain sebagai berikut;
a. Teuku
Mohammad Hasan untuk daerah Sumatra.
b. Sam
Ratulangi untuk daerah Sulawesi.
c. Ktut
Pudja untuk daerah Nusa Tenggara.
d. Ir.
Mohammad Noor untuk daerah Kalimantan.
4.
Sambutan
Rakyat di Berbagai Daerah Terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Peristiwa
penting yang menunjukkan dukungan rakyat secara spontan terhadap Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia, antara lain sebagai berikut :
4.1.
Rapat Raksasa di Lapangan Ikada
Di
berbagai tempat, masyarakat dengan dipelopori para pemuda menyelenggarakan
rapat dan demonstrasi untuk membulatkan tekad menyambut kemerdekaan. Di
lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta) Jakarta pada tanggal 19 September 1945
dilakasanakan rapat umum yang dipelopori Komite
Van Aksi. Lapangan Ikada sekarang ini terletak di sebelah selatan Lapangan
Monas.
Makna rapat raksasa di
Lapangan Ikada bagi bangsa Indonesia, antara lain sebagai berikut :
1) Rapat
tersebut berhasil mempertemukan pemerintah Republik Indonesia dengan rakyatnya.
2) Rapat
tersebut merupakan perwujudan kewibawaan pemerintah Republik Indonesia terhadap
rakyatnya.
3) Menanamkan
kepercayaan diri bahwa rakyat Indonesia mampu mengubah nasib dengan kekuatan
sendiri.
4) Rakyat
mendukung pemerintahan yang baru terbentuk. Buktinya, setiap instruksi pimpinan
mereka laksanakan
4.2.
Tindakan heroic mendukung proklamasi
Usaha
menegakkan kedaulatan juga terjadi di berbagai daerah dengan adanya tindakan
heroic di berbagai kota yang mendukung Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, antara
lain sebagai berikut:
a. Jogjakarta
Perebutan
kekuasaan di Jogjakarta dimulai tanggal 26 September 1945 sejak pukul 10.00
WIB. Para pegawai pemerintah dan perusahaan yang dikuasai Jepang melakukan aksi
mogok. Mereka menuntut agar jepang menyerahkan semua kantor kepada pihak
Indonesia. Aksi mogok makin kuat ketika Komite Nasional Daerah (KNID)
menegaskan bahwa kekuasaan di daerah tersebut telah berada di tangan pemerintah
RI. Pada hari itu juga di Jogjakarta terbit surat kabar Kedaulatan Rakyat.
b. Surabaya
Para
pemuda yang tergabung dalam BKR berhasil merebut kompleks penyimpanan senjata
Jepang dan pemancar radio di Embong, Malang. Selain itu, terjadi insiden
bendera di Hotel Yamato, Tunjungan Surabaya. Insiden itu terjadi ketika
beberapa orang Belanda mengibarkan bendera Merah Putih Biru di atap hotel.
Tindakan tersebut menimbulkan kemarahan rakyat. Rakyat kemudian menyerbu hotel,
menurunkan dan merobek warna biru bendera itu untuk dikibarkan kembali. Insiden
ini terjadi pada tanggal 19 September 1945.
c. Semarang
Pada
tanggal 14 Oktober 1945 para pemuda bermaksud memindahkan 400 orang tawanan
jepang (veteran Angkatan Laut) dari Pabrik Gula Cepiring menuju Penjara Bulu di
Semarang. Akan tetapi, di tengah perjalanan para tawanan itu melarikan diri dan
bergabung dengan Kidobutai di jatingaleh (batalyon setempat di bawah pimpinan
Mayor Kido).
Situasi
bertamabah panas dengan desas-desus bahwa jepang telah meracuni cadangan air
minum penduduk Semarang yang ada di Candi. Untuk membuktikan kebenaran
desas-desus tersebut,dr. karyadi sebagai Kepala Laboratorium Pusat Rumah Sakit
Rakyat (Parusara) melakukan pemeriksaan. Namun, yang terjadi kemudian dr.
karyadi tewas di jalan Pandanaran, Semarang. Tewasnya dr. Karyadi menimbulkan
kemarahan para pemuda Semarang.
Pada
tanggal 15 Oktober 1945 pasukan Kidobutai melakukan serangan ke kota Semarang
dan dihadapi oleh TKR dan laskar pejuang lainnya. Pertempuran berlangsung selama
lima hari dan mereda setelah pemimpin TKR berunding dengan pimpinan pasukan
jepang. Kedatangan pasukan Sekutu di Semarang pada tanggal 20 Oktober 1945 juga
mempercepat terjadinya gencatan senjata. Pasukan sekutu akhirnya menawan dan
melucuti tentara jepang. Akibat pertempuran ini ribuan pemuda gugur dan ratusan
orang jepang tewas. Untuk mengenang peristiwa itu, di Semarang didirikan
Monumen Tugu Muda dan nama dr. Karyadi diabadikan menjadi nama rumah sakit di
Semarang.
d. Aceh
Pada
tanggal 6 Oktober 1945, para pemuda dari tokoh masyarakat membentuk Angkatan
Pemuda Indonesia (API). Penguasa militer jepang memerintahkan pembubaran
organisasi itu dan para pemuda tidak boleh melakukan kegiatan perkumpulan. Atas
peringatan jepang itu, para pemuda menolak keras. Anggota API kemudian merebut
dan mengambil alih kantor-kantor pemerintahan. Di tempat-tempat yang telah mereka
rebut para pemuda mengibarkan bendera Merah Putih dan berhasil melucuti senjata
tentara jepang.
e. Bali
Pada
bulan Agustus 1945, para pemuda Bali telah membentuk organisasi seperti
Angkatan Muda Indonesia (AMI) dan Pemuda Republik Indonesia (PRI). Upaya perundingan
untuk menegakkan kedaulatan RI telah mereka upayakan, tetapi pihak jepang
selalu menghambat. Atas tindakan tersebut pada tanggal 31 Desember 1945 para
pemuda merebut kekuasaan dari Jepang secara serentak, tetapi belum berhasil.
f. Kalimantan
Rakyat
Kalimantan juga berusaha menegakkan kemerdekaan dengan cara mengibarkan bendera
Merah Putih, memakai lencana merah putih dan mengadakan rapat-rapat, tetaoi
kegiatan ini dilarang oleh pasukan sekutu yang sudah ada di Kalimantan. Rakyat
tidak menghiraukan larangan larangan sekutu, sehingga pada tanggal 14 November
1945 di Balikpapan (dengan markas sekutu) berkumpul lebih kurang 8000 orang
dengan membawa merah putih.
g. Palembang
Rakyat
Palembang dalam mendukung proklamasi dan menegakkan kedaulatan Negara Indonesia
dilakukan dengan jalan mengadakan upacara pengibaran bendera merah putih pada
tanggal8 Oktober 1945 yang di pimpin oleh dr. A.K. Gani. Pada kesempatan itu
diumumkan bahwa Sumatra Selatan berada di bawah kekuasaan RI. Upaya penegakkan
kedaulatan di Sumatra Selatan tidak memerlukan kekerasan, karena Jepang
berusaha menghindari pertempuran.
h. Bandung
Para
pemuda bergerak untuk merebut Pangkalan Udara Andir (sekarang Bandara Husein
Sastranegara) dan gudang senjata dari tangan jepang.
i.
Makasar
Gubernur
Sam Ratulangi menyusun pemerintahan pada tanggal 19 Agustus 1945. Sementara itu
para pemuda bergerak untuk merebut gedung-gedung penting seperti stasiun radio
dan tangsi polisi.
j.
Sumbawa
Bentroka fisik antara
dan tentara Jepang terjadi di Gempe, Sape dan Raba.
k. Sumatera Selatan
Pada
tanggal 8 Oktober 1945 rakyat mengadakan upacara pengibaran bendera Merah
Putih. Pada tanggal itu juga diumumkan bahwa Sumatra Selatan berada dibawah
kekuasaan RI.
l.
Lampung
Para
pemuda yang tegabung dalam API (Angkatan Pemuda Indonesia) melucuti senjata
jepang di teluk betung, klaianda dan menggala.
m. Solo
Para
pemuda melakukan pengepungan markas Kempetai Jepang, sehingga terjadilah
pertempuran. Dalam pertempuran itu, seorang pemuda bernama Arifin gugur.
5.
PROSE
PEMBENTUKAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA
Sebagai
Negara yang baru lahir, Indonesia belum memiliki undang-undang dasar yang
berfungsi untuk mengatur segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Kepala
Negara dan kepala pemerintahan yang akan menjalankan pemerintahan serta
kelengkapannya juga belum ada. Para pemimpin bangsa segera memanfaatkan dengan
sebaik-baiknya lembaga yang ada pada waktu itu, yaitu Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk Jepang sejak tangal 7 Agustus 1945.
1.
Pembentukan
Kelengkapan Pemerintahan
Sehari
sesudah proklamasi, pada tanggal 8 Agustus 1945 PPKI mengadakan sidangnya
pertama di Gedung Kesenian Jakarta. Siding dipimpin oleh Ir. Soekarno dengan
Drs. Mohammad Hatta sebagai wakilnya. Anggota sidang PPKI sebanyak 27 orang.
Melalui
pembahasan secara musyawarah, sidang mengambil keputusan penting, antara lain
sebagai berikut :
a.
Penetapan dan pengesahan konstitusi
sebagai hasil kerja BPUPKI yang sekarang dikeanal dengan Undang-Undang Dasar
1945 sebagai konstitusi RI.
b.
Ir. Soekarno dipilih sebagai presiden RI
dan Drs. Mohammad Hatta sebagai wakil Presiden Republik Indonesia.
c.
Pekerja Presiden RI untuk sementara
waktu oleh sebuah Komite Nasional.
Pembukaan
UUD 1945 yang disahkan oleh PPKI hampir seluruh bahannya diambil dari Rancangan
Pembukaan UUD hasil kerja Panitia Perumus pada tanggal 22 Juni 1945 yang
disebut Piagam Jakarta.
Bahan tersebut telah
mengalami perubahan, yaitu sebagai berikut :
a.
Kata “mukadimah” diganti “Pembukaan”
b.
Kata “Hukum Dasar” diganti dengan “Undang-Undang
Dasar”
c.
Kata “menurut dasar” dalam kalimat ”Berdasarkan
kepada Ketahanan menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab” dihapus.
d.
Kalimat …… “dengan kewajiban menjalankan syarat islam bagi pemeluk-pemeluknya” dihapus.
Adapun
isi batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945, bahannya diambil dari rancangan
konstitusi hasil penyusunan Panitia Perencana pada tanggal 16 Juli 1945. Bahan
itu juga mengalami beberapa perubahan, antara lain sebagai berikut :
a.
Pasal 6 ayat 1, semula berbunyi “Presiden ialah orang Indonesia asli yang
beragama Islam”. Kata yang “beragama
Islam” dihilangkan karena dinilai menyinggung perasaan yang tidak beragama
islam.
b.
Pasal 29 ayat 1, kalimat di belakang … “Ketuhanan” yang berbunyi dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi
pemeluk-pemeluknya” dihilangkan. Kalimat tersebut terdapat pada pembukaan
UUD alinea ke-4.
Setelah
melalui pembicaraan dan pembahasan yang matang, akhirnya dengan suara bulat,
konstitusi itu diterima dan disahkan oleh PPKI menjadi Konstitusi Negara Republik
Indonesia. Konstitusi itu disebut Undang-Undang Dasar 1945. Pengesahan itu
kemudian dimuat dalam Berita Republik Indonesia Tahun ke-2 No. 7 Tahun 1946
halaman 45-48.
Pada
tanggal 18 Agustus 1945 Presiden dan wakil presiden RI untuk pertama kali dipilih
oleh PPKI, dan melantiknya belum terbentuk. Hal itu diatur dalam Pasal III
Aturan Peralihan UUD 1945. PPKI memilih Ir. Soekarno sebagai presiden dan Drs.
Mohammad Hatta sebagai wakil presiden RI.
Untuk
membantu pekerjaan presiden RI, PPKI telah mengaturnya pada Pasal IV Aturan
Peralihan UUD 1945 yang berbunyi, “Sebelum
Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, dan Dewan pertimbangan
Agung dibentuk menurut Undang-Undang Dasar, segala kekuasaannya dijalankan oleh
presiden dengan bantuan sebuah Komite Nasional”.
PPKI
kemudian melanjutkan pekerjaannya guna melengkapi berbagai hal yang diperlukan
bagi berdirinya Negara dengan melaksanakan sedang pada tanggal 19 Agustus 1945.
Dalam sidang kedua PPKI
menghailkan keputusan, antara lain:
a.
Menetapkan dua belas kementerian yang
membantu tugas presiden dalam pemerintahan.
b.
Membagi wilayah Republik Indonesia
menjadi delapan provinsi.
PEMBAGIAN WILAYAH REPUBLIK INDONESIA
|
||
No.
|
Provinsi
|
Nama
Gubernur
|
1.
|
Provinsi
Sumatra
|
Mr.
Tengku Moh. Hasan
|
2.
|
Provinsi Jawa Barat
|
Sutarjo Kartohadikusumo
|
3.
|
Provinsi
Jawa Tengah
|
R.
Panji Soeroso
|
4.
|
Provinsi Jawa Timur
|
R. A. Soerjo
|
5.
|
Provinsi
Sunda Kecil
|
Mr.
I. Gusti Ktut Pudja
|
6.
|
Provinsi Maluku
|
Mr. J. Latuharhary
|
7.
|
Provinsi
Sulawesi
|
Dr.
G.S.S.S.J. Ratulangi
|
8.
|
Provinsi Kalimantan
|
Ir. Pangeran Mohammad Noor
|
2.
Pembentukan
Komite Nasional Indonesia
PPKI
kembali mengadakan sidang pada tanggal 22 Agustus 1945 yang memiliki agenda
pokok tentang rencana pembentukan Komite Nasional dan Badan Keamanan Rakyat.
Komite Nasioanal dibentuk di seluruh Indonesia dan berpusat di Jakarta.
Tujuannya sebagai penjelmaan tujuan dan
cita-cita bangsa Indonesia untuk menyelenggarakan kemerdekaan Indonesia yang
berdasarkan kedaulatan rakyat, KNIP diresmikan dan anggotanya dilantik pada
tanggal 29 Agustus 1945 di Gedung Kesenian, Pasar Baru, Jakarta.
Pada
saat itu terjadi perubahan politik, pada tanggal 11 November 1945, Badan
Pekerja KNIP mengeluarkan Pengumuman Nomor 5 tentang Peraliahan Pertanggung
Jawaban menteri-menteri dari presiden kepada badan pekerja KNIP. Itu berarti
system kabinet presidensil dalam UUD 1945 telah diamandemen menjadi sistem
kabinet parlementer. Hal ini terbukti setelah Badan Pekerja KNIP mencalonkan
Sutan Syahrir sebagai perdana menteri. Akhirnya, cabinet presidensil
Soekarno-Hatta jatuh dan digantikan oleh kabinet parlementer dengan Sutan
Syahrir sebagai perdana menteri pertama.
3.
Pembentukan
Alat Kelengkapan Keamanan Negara
Pada
akhir sidang PPKI tanggal 19 Agustus 1945 dibentuk panitia kecil yang bertugas membahas
pembentukan tentara kebangsaan. Sebagai tindak lanjut dari usulan tersebut,
presiden menugaskan Abdul Kadir, Kasman Singodimedjo, dan Otto Iskandardinata
untuk menyiapkan pembentukan tentara kebangsaan
Hasil
kerja panitia kecil dilaporkan dalam rapat pleno PPKI pada tanggal 22 Agustus
1945. Kemudian rapat pleno memutuskan pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR).
BKR ditetapkan sebagai bagian dari Badan Penolong Keluarga Korban Perang
(BPKKP) yang merupakan induk organisasi dengan tujuan untuk memelihara
keselamatan masyarakat, serta merawat para korban perang.
Sementara
itu, situasi keamanan tampaknya akan makin buruk karena dibayang-bayangi oleh
datangnya tentara Sekutu dan Belanda di Indonesia. Menghadapi situasi demikian
para pemuda merasa terpanggil untuk berjuang memanggul senjata. Untuk itu.
Berdirilah berbagai organisasi kelaskaran di berbagai wilayah.
Melihat
perkembangan situasi yang makin membahayakan Negara, pimpinan menyadari bahwa
sulit untuk mempertahankan Negara dan kemerdekaan tanpa angkatan perang. Dalam
kondisi seperti itu, pemerintah memanggil pensiunan Mayor KNIL Oerip Soemoharjo
dari Jogjakarta ke Jakarta dan diberi tugas membentuk tentara kebangsaan.
Dengan
Maklumat Pemerintah pada tanggal 5 Oktober 1945, terbentuklah organisasi ketentaraan
yang bernama Tentara Keamanan Rakyat (TKR), semula yang ditunjuk menjadi
pimpinan tertinggi TKR adalah Supriyadi, pimpinan perlawanan Peta di Blitar
(Februari 1945), dan sebagai Menteri Keamanan Rakyat ad in-terim diangkat
Muhammad Surjoadikusumo, mantan Daidanco Peta. Berdasarkan Maklumat Pemerintah
itu pula, Oerip Soemoharjo membentuk Markas Tinggi TKR di Jogjakarta. Di Pulau
Jawa terbentuk 10 Divisi dan di Sumatra 8 divisi.
Berkembangnya
situasi yang makin tidak menentu menyebabkan TKR membutuhkan figur pimpinan
yang kuat dan berwibawa. Akan tetapi, Supriyadi yang telah ditunjuk sebagai
pimpinan tertinggi TKR belum juga muncul sehingga di kalangan TKR merasa perlu
segera mengisi kekosongan tersebut. Dalam konferensi TKR di Jogjakarta pada tanggal
12 November 1945, Kolonel Soedirman, Panglima Divisi V Banyumas terpilih
menjadi pimpinan tertinggi TKR. Pengangkatan Kolonel Soedirman dalam jabatan
terlaksana setelah selesainya pertempuran di Ambarawa.
Untuk
menghilangkan kesimpangsiuran, markas Besar TKR pada tanggal 6 Desember 1945
mengeluarkan sebuah maklumat. Isi maklumat itu menyatakan bahwa selain tentara
resmi (TKR) juga dibolehkan adanya lascar, sebab hak dan kewajiban
mempertahankan Negara bukanlah monopoli tentara. Pada tanggal 18 Desember 1945
pemerintah mengangkat Kolonel Soedirman sebagai panglima besar TKR dengan
pangkat Jendral. Adapun sebagai Kepala Staf Umum TKR dipegang oleh Mayor Oerip
Soemoharjo.
Adapun Perkembangan
Tentara Keamanan Rakyat adalah sebagai berikut :
a.
Pada tanggal 7 Januari 1946, pemerintah
mengubah nama Tentara Keamanan Rakyat menjadi Tentara Keselamatan Rakyat.
Kemudian Kementrian Keamanan Rakyat menjadi Tentara Republik Indonesia.
b.
Tanggal 24 Januari 1946, Tentara
Keselamatan Rakyat (TKR) berganti nama menjadi Tentara Republik Indonesia
(TRI). Pergantian nama itu dilatarbelakangi oleh upaya mendirikan tentara
kebangsaan yang percaya pada kekuatan sendiri.
c.
Pada tanggal 5 Mei 1946. Presiden
mengeluarkan dekret guna membentuk suatu panitia yang ia pimpin sendiri dengan
nama Panitia Pembentukan Organisasi Tentara Nasional Indonesia. Panitia
tersebut beranggotakan 21 orang dari berbagai pimpinan laskar yang paling
berpengaruh. Pada tanggal 3 Juni 1947 keluar sebuah penetapan yang menyatakan
bahwa TRI berganti nama menjadi Tentara Nasioanl Indonesia (TNI). Pergantian
nama itu dilatarbelakangi oleh upaya mereorganisasi tentara kebangsaan yang
benar-benar professional.
4.
Dukungan
Daerah terhadap Pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dukungan
terhadap proklamasi pembentukan Negara dan pemerintah Republik Indonesia,
antara lain sebagai berikut :
4.1.
Keraton Kasultanan Jogjakarta
Pada
tanggal 29 Agustus 1945 Sri Sultan Hamengku Buwono IX dari Jogjakarta
mengirimkan telegram ke Jakarta yang isinya menyatakan bahwa Kesultanan Jogjakarta
sanggup berdiri di belakang pimpinan Soekarno-Hatta.
Pada
tanggal 5 September 1945 dukungan itu dipertegas dengan pengumuman Amanat
Pernyataan SriSultan Hamengku Buwono IX.
4.2.
Sumatra mendukung pemerintah Republik Indonesia
Gelora
kemerdekaan Indonesia yang telah menyebar kemana-mana mendorong para pemuda,
khususnya Sumtra Timur untuk bergerak. Munculnya semangat kebangsaan yang
tinggi menyebabkan para pemuda bergerak dari jalan Jakarta No. 6 Medan dibawah
pimpinan A. Tahrir, Abdul Malik Munir, M.K. Yusni mendukung pemerintah Republik
Indonesia yang telah berdiri.
Melihat
dukungan rakyat yang demikian besar dan tanpa kenal takut, pada tanggal 3
Oktober 1945 Teuku Mohammad Hassan selaku gubernur dengan resmi mengumumkan
dimulainya Pemerintahan Republik Indonesia di Sumatra dengan Medan sebagai ibu
Kota Provinsinya.
Penduduk
Bukit tinggi pun tidak ketinggalan mendukkung Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Tanggal 29 September 1945 bendera Merah Putih telah berkibar di bukit tinggi.
Sejak saat itulah bendera Merah Putih berkibar di daerah-daerah di Sumatra.
4.3.
Silawesi Utara mendukung pemerintah Republik Indonesia
Pada
tanggal 14 Februari 1945 para Pemuda Sulawesi Utara di bawah pimpinan Ch. Taulu
mengadakan pemberontakan untuk mendirikan RI di Sulawesi Utara. Awalnya,
pemberontakan itu muncul di Manado yang kemudian menyebar ke Tondano, Bitung,
dan Bolang Mongondow. Perlawanan terhadap Belanda (NICA) mendapat dukungan dari
rakyat, karena rakyat sudah anti terhadap penjajah dan mendukung berdirinya
Negara Republik Indonesia.
5.
Pembentukan
Lembaga Pemerintahan di Seluruh Daerah di Indonesia
Bentuk
pemerintah daerah di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 18
(sebelum diamandemen) yang berbunyi : Pembagian
Daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil dengan bentuk susunan
pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang dengan memandang dan megingat
dasar musyawarah dalam sistem pemerintahan Negara, dan hak-hak asal-usul dalam
daerah-daerah yang bersifat istimewa. Hal ini berarti daerah Indonesia akan
dibagi dalam daerah provinsi dan setiap daerah provinsi akan dibagi pula dalam
daerah lebih kecil. Di daerah-daerah yang bersifat otonom atau daerah
administrasi, semua menurut aturan yang akan ditetapkan dengan undang-undang
dan akan diadakan badan perwakilan daerah.
Berbagai kegiatan yang
dilakukan didaerah antara lain :
a.
Pada awal September 1945, pemerintah
Republik Indonesia Provinsi Sulawesi terbentuk. Dr. G.S.S.J. Ratulangi dilantik
sebagai gubernur Sulawesi dan mulai menjalankan roda pemerintahan.
b.
Di Medan, pada tanggal 30 September 1945
para pemuda dipimpin oleh Sugondo Kartoprojo membentuk Barisan Pemuda
Indonesia. Gubernur Sumatra, Teuku Mohammad Hassan juga segera membentuk
pemerintah daerah di wilayah Sumtra.
c.
Di Banjarmasin, pada tanggal 10 Oktober
1945 rakyat melakukan rapat umum untuk meresmikan berdirinya pemerintah
Republik Indonesia Daerah Kalimantan Timur. Pada tanggal 1 Januari 1946 di
Pangkalan Bun, Sampit, dan Kota Waringin diresmikan berdirinya pemerintahan
Republik Indonesia dan Tentara Republik Indonesia.
Selain
daerah-daerah tersebut diatas, daerah lain juga mengikuti langkah-langkah yang
diinstruksikan oleh pemerintah pusat untuk segera menjalankan pemerintahan di
daerah di bawah pimpinan para gubernur masing-masing.
Sesuai
dengan keputusan PPKI tanggal 18 Agustus 1945 bahwa tugas presiden dibantu oleh
Komite Nasional, maka di daerah-daerah tugas gubernur (Kepala daerah) juga
dibantu oleh Komite Nasional di daerah. Pembentukan Komite Nasioanl Indonesia
Daerah yang ada di tiap-tiap provinsi merupakan lembaga yang akan berfungsi
sebagai Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sebelun diadakan pemilihan umum. Dengan
terbentuknya pemerintahan di daerah yang dibantu oleh Komite Nasional di daerah
diharapkan roda pemerintahan dapat berjalan, baik di tingkat pusat maupun di
daerah.
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Tanggal 6 Agustus 1945 pukul 08.15, bom atom
pertama dijatuhkan di Hiroshima, menyebabkan lebih 70 ribu orang dari kota yang
berpenduduk 350 ribu jiwa tewas seketika. Tanggal 9 Agustus 1945, bom atom
kedua dijatuhkan ke Nagasaki. Sepertiga kota itu hancur dan tidak kurang 75
ribu orang tewas. Kaisar Hirohito menganggap Jepang sudah tidak mungkin lagi
meneruskan peperangan dan kemudian memaklumkan kekalahannya --menyerah tanpa
syarat kepada sekutu.
Menyerahnya Jepang hampir tidak diketahui
rakyat di Indonesia. Pada masa pendudukan Jepang, rakyat buta terhadap
berita-berita luar negeri. Semua radio disegel. Mereka yang ketahuan
mendengarkan siaran radio musuh sangat besar risikonya: ditangkap Kempetai
(polisi milter Jepang) dan dituduh mata-mata musuh. Tuduhan yang bisa membawa
kematian orang bersangkutan.
Ketika Jepang bertekuk lutut, yang mendengar
kekalahan itu antara lain Sutan
Sjahrir. Ia dikenal sebagai tokoh Anti Jepang yang bekerja di bawah
tanah dan selalu mendengarkan siaran radio gelap. Pemuda Minang bertubuh kecil
ini kemudian menyebarkan berita kekalahan Jepang itu kepada para pemuda.
Pada 14 Agustus 1945, Jepang bertekuk lutut pada
Angkatan Perang Sekutu. Hari itu suasana kota Jakarta tegang akibat desas-desus
penyerahan Jepang. Bung Karno dan Bung Hatta yang baru pulang dari Saigon
menemui Jenderal Besar
Terauchi, Panglima Tertinggi Pasukan Jepang di Asia Tenggara, berusaha
untuk mencari keterangan dari Gunseikun (Kepala Pemerintahan Pendudukan
Jepang). Tapi, usaha kedua tokoh nasional ini sia-sia. Para perwira militer
Jepang tutup mulut termasuk Laksamana
Maeda, penghubung AL Jepang di Indonesia.
Pukul 04.00 dinihari, tanggal 16 Agustus 1945,
Soekarno dan Hatta oleh sekelompok pemuda dibawa ke Rengasdengklok. Aksi
“penculikan” itu sangat mengecewakan Bung Karno, sebagaimana dikemukakan. Bung
Karno marah dan kecewa, terutama karena para pemuda tidak mau mendengarkan
pertimbangannya yang sehat. Mereka menganggap perbuatannya itu sebagai tindakan
patriotik. Namun, melihat keadaan dan situasi yang panas, Bung Karno tidak
mempunyai pilihan lain, kecuali mengikuti kehendak para pemuda untuk dibawa ke
tempat yang mereka tentukan. Fatmawati istrinya, dan Guntur yang pada waktu itu
belum berumur satu tahun juga diikutsertakan.
Rengasdengklok kota kecil dekat Karawang dipilih oleh para
pemuda untuk mengamankan Soekarno-Hatta dengan perhitungan militer; antara
anggota PETA (Pembela Tanah Air) Daidan Purwakarta dengan Daidan Jakarta telah
terjalin hubungan erat sejak mereka mengadakan latihan bersama-sama. Di samping
itu, Rengasdengklok letaknya terpencil sekitar 15 km. dari Kedunggede Karawang.
Dengan demikian, deteksi dengan mudah dilakukan terhadap setiap gerakan tentara
Jepang yang mendekati Rengasdengklok, baik yang datang dari arah Jakarta maupun
dari arah Bandung atau Jawa Tengah.
Sehari penuh, Soekarno dan Hatta berada di
Rengasdengklok. Maksud para pemuda untuk menekan mereka, supaya segera
melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan terlepas dari segala kaitan dengan Jepang,
rupa-rupanya tidak membuahkan hasil. Agaknya keduanya memiliki wibawa yang
cukup besar. Para pemuda yang membawanya ke Rengasdengklok, segan untuk
melakukan penekanan terhadap keduanya. Sukarni dan kawan-kawannya, hanya dapat
mendesak Soekarno-Hatta untuk menyatakan proklamasi secepatnya seperti yang
telah direncanakan oleh para pemuda di Jakarta. Akan tetapi, Soekarno-Hatta
tidak mau didesak begitu saja. Keduanya, tetap berpegang teguh pada perhitungan
dan rencana mereka sendiri.
Hari Jumat di bulan Ramadhan, pukul 05.00 pagi,
fajar 17 Agustus 1945 memancar di ufuk timur. Embun pagi masih menggelantung di
tepian daun. Para pemimpin bangsa dan para tokoh pemuda keluar dari rumah
Laksamana Maeda, dengan diliputi kebanggaan setelah merumuskan teks Proklamasi
hingga dinihari. Mereka, telah sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan
bangsa Indonesia hari itu di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No. 56
Jakarta, pada pukul 10.00 pagi. Bung Hatta sempat berpesan kepada para pemuda
yang bekerja pada pers dan kantor-kantor berita, untuk memperbanyak naskah
proklamasi dan menyebarkannya ke seluruh dunia.
Thank yaa, sangat membantu
BalasHapus