Dari Masyarakat Baru Hingga
Munculnya Pemerintahan Kolonial
Amerika
Serikat tidak muncul sebagai bangsa sampai kira-kira 175 tahun sesudah
pembentukannya sebagai kelompok yang hampir semuanya terdiri atas koloni
Inggris. Walaupun demikian, sejak awal Amerika merupakan masyarakat yang
berbeda di mata banyak orang Eropa yang melihatnya dari jauh, entah dengan
penuh harap atau malah khawatir. Kebanyakan pendatang—baik anak lelaki bungsu
para aristocrat, pemberontak religious, atau hamba kontrak yang miskin, datang
ke sana dengan iming-iming janji kesempatan atau kebebasan yang tidak tersedia
di dunia lama. Orang-orang Amerika pertama dilahirkan kembali dengan bebas,
mengembangkan diri mereka di alam terbuka, terlepas dari aturan sosial selain
aturan masyarakat pribumi primitive yang
mereka usir dari tanahnya. Setelah meninggalkan
beban pemerintahan feudal, mereka menghadapi beberapa halangan dalam
mengembangkan masyarakat dengan susuah payah pada abad ke-17 dan ke-18 di
Eropa. Berdasarkan pemikiran filsuf John Locke, liberalisme semacam ini
menekankan hak asasi individu dan pembatasan kekuasaan pemerintah.
Kebanyakan
Imigran yang datang ke Amerika berasal dari daerah British Isles, yang memiliki
kebijakan politik paling liberal di Eropa, sama seperti Belanda. Dari segi
agama, mayoritas penduduknya menganut berbagai bentuk Calvinisme dengan
penekanan pada relasi kontraktual antara ketuhanan dan sekuler. Semua itu
berperan besar dalam mendorong munculnya aturan sosial yang dibangun atas dasar
hak individu dan mobilitas sosial. Perkembangan masyarakat komersial yang lebih
kompleks dan sangat terstruktur di kota-kota pesisir pada pertengahan abad
ke-18 tidak menghentikan tren ini; justru di kota-kota pesisir pada pertengahan
abad ke-18 tidak menghentikan tren ini; justru di kota-kota inilah Revolusi
Amerika di rancang. Rekonstruksi masyarakat secara konstan di sepanjang
perbatasan daerah barat yang terus-menerus menyurut turut berkontribusi pada
semangat liberal demokratik.
Di
Eropa, gagasan hak individu berkembang perlahan dan tidak merata; konsep
demokrasi bahkan lebih sering lagi. Usaha dalam mengembangkan keduanya dalam
Negara tertua di benua Eoropa memicu Revolusi Perancis. Upaya menghancurkan
masyarakat neofeodal sekaligus menerapkan hak manusia dan persaudaraan
demokratis menciptakan terror, kediktatoran dan kelaliman ala napoleon. Pada
akhirnya hal tersebut mengarah pada reaksi dan mengesahkan aturan lama yang
terus merosot. Di Amerika, masa lalu bangsa Eropa dikalahkan oleh idealisme
yang tumbuh secara alamiah dari proses membangun masyarakat baru di lahan
perawan. Prinsip liberalisme dan demokrasi sudah kuat sejak awalnya. Masyarakat
yang telah membuang beban sejarah Eropa secara alamiah akan melahirkan bangsa
yang menganggap dirinya “istimewa”.
Pendatang
baru yang menetap di Amerika pada abad ke-17 adalah orang Inggris, Belanda,
Swedia, dan Jerman di daera tengah, sedikit orang Perancis Huguenot di South
Carolina dan beberapa tempat lain, budak dari Afrika, terutama di Selatan dan
segelintir orang Spanyol, Italia dan Portugis yang tersebar di seluruh koloni.
Pada
tahun 1690 populasi Amerika meningkat hingga seperempat juta, kemudian
bertambah dua kali lipat setiap 25 tahun hingga pada tahun 1775 mencapai jumlah
lebih dari 2,5 juta orang. New England, dengan melimpahnya pendatang awal yang
bermukin di desa dan kota sekitar pelabuhan, banyak orang New England yang
menjalankan usaha perdagangan atau bisnis. Padang rumput dan hutan kayu milik
bersama menyediakan kebutuhan warga kota yang mengelola tanah pertanian kecil
di dekatnya.
Masyarakat
di koloni tengah jauh lebih bervariasi, cosmopolitan dan toleran disbanding
koloni New England. Pada 1685, populasinya mencapai 9000 orang. Jantung koloni
itu adalah Philadelphia, kota dengan jalan yang lebar dan teduh oleh pepohonan,
rumah dari batu dan bata yang kokoh, dan galangan kapal yang sibuk.
Walaupun
sekte Quakers mendominasi Philadelphia, di bagian lain Pennsylvania,
kepercayaan lainnya terwakili dengan baik. Orang Jerman menjadi petani paling
terampil dalam koloni itu. Yang juga penting adalah industry rumahan seperti
menenun, membuat sepatu, membuat lemari dari kerajinan lainnya. Pennyslvania
juga merupakan gerbang utama menuju Dunia Baru bagi para Scots-Irish, yang
pindah ke koloni itu pada awal abad ke-18.
“Orang
asing yang pemberani namun melarat” demikianlah sebutan salah seorang otoritas
Pennsylvania bagi mereka.
New
York menjadi contoh terbaik akan sifat polyglot Amerika. Pada 1646, populasi di
sepanjang sungai Hudson mencakup orang Belanda, Perancis, Denmark, Norwegia,
Swiss, Inggris, Skotlandia, Irlandia, Jerman, Polandia, Portugis dan Italia.
Bertolak
belakang dengan New England dan koloni tengah, koloni Selatan didominasi
penduduk pedesaan. Petani yang bercocok tanam di laan yang lebih kecil, duduk
dimajelis-majelis popular dan membuka jalan hingga masuk ke dunia politik.
Ditengah-tengah
kehidupan masyarakat koloni Selatan, para lelaki mengenakan pakaian kulit yang
dibuat dari kulit rusa atau domba, yang dikenal sebagai ‘buckskin’; sementara
para wanita mengenakan pakaian yang bahannya mereka tenun sendiri. Makanan mereka
terdiri atas daging rusa, kalkun liar dan ikan.
Kepentingan
yang sama-sama mendesak bagi masa depan menjadi dasar pendidikan dan kebudayaan
yang dibentuk pada masa colonial. Universitas Harvard didirikan pada 1636 di
Cambridge, Massachusetts, mendekati akhir abad, College of William and Mary
didirikan di Virginia. Beberapa tahun kemudian, Collegiate School of
Connecticut, yang kemudian menjadi Universitas Yale, didirikan.
Pada
1647, koloni teluk Massachusetts memberlakukan undang-undang ‘ye olde deluder
satan’, mengharuskan setiap kota yang memiliki lebih dari 50 keluarga untuk
mendirikan sekolah tata bahasa (sekolah latin yang mempersiapkan siswanya masuk
ke universitas).
Perancis
dan Inggris Raya terlibat dalam serangkaian perang di Eropa dan Karibia abad
ke-18, walaupun Inggris Raya memiliki beberapa keuntungan—di pulau-pulai kaya
gula di Karibia—secara umum pertempuran tersebut tidak menghasilkan apa-apa dan
Perancis tetap memiliki posisi kuat di Amerika Utara.
Pada
1754, Prancis masih berhubungan erat dengan beberapa suku Pribumi Amerika di
Kanada dan sepanjang Great Lakes. Dengan mendirikan benteng sejumlah benteng
dan pos perdagangan, Perancis mengendalikan sungai Missisippi dan membentuk
kerajaan berbentuk bulan sabit yang amat besar yang membentang dari Quebec
hingga New Orleans.
Kebanyakan
imigran yang datang ke Amerika berasal dari daerah British Isles, yang memiliki
kebijakan politik paling liberal di Eropa, sama seperti Belanda. Dari segi
agama, mayoritas penduduknya menganut berbagai bentuk Calvinisme dengan
penekanan pada relasi kontraktual antara ketuhanan dan sekuler. Semua itu
berperan besar dalam mendorong munculnya aturan sosial yang dibangun atas dasar
hak individu dan mobilitas sosial. Perkembangan masyarakat komersial yang lebih
kompleks dan sangat terstruktur di kota-kota pesisir pada pertengahan abad
ke-18 tidak menghentikan tren ini; justru di kota-kota inilah Revolusi Amerika
dirancang. Rekonstruksi masyarakat secara konstan di sepanjang perbatasan
daerah barat yang terus menerus menyurut turut berkontribusi pada semangat
liberal demokratik.
Amerika
Serikat tidak muncul sebagai bangsa sampai kira 175 tahun sesudah
pembentukannya sebagai kelompok yang hampir semuanya terdiri atas koloni
Inggris. Walau demikian, sejak awal Amerika merupakan masyarakat yang berbeda
di mata banyak orang Eropa yang melihatnya dari jau, entah dengan penuh harap
atau malah khawatir. Kebanyakan pendatang—baik anak lelaki bungsu para
aristocrat, pemberontak religious, atau hamba kontrak yang miskin, datang ke
sana dengan iming-iming janji kesempatan atau kebebasan yang tidak tersedia di
Dunia Lama.
Sistem
Kolonial Baru
Setelah
perang prancis Indian, London melihat kebutuhan akan Desain Kerajaan baru
dengan kendali yang lebih terpusat, persebaran diaya kerajaan yang lebih adil,
dan memperjuangkan kepentingan baik
warga Kanada Perancis maupun Indian Amerika Utara. Di sisi lain, kolono yang
telah lama terbiasadengan kemerdekaan menginginkan kebebasan yang lebih banyak,
bukannya lebih sediakit. Dan dengan tereeliminasinya ancaman dari Perancis,
mereka semakin tidak membutuhkan kehadiran Inggris. Kerajaan dan parlemen yang
tidak paham di sisi lain Atlantik mendapati diri mereka bersaing dengan earga
koloni yang terlatih dalam pemeriontahan otonomi dan tidak sabr menghadapi
campur tangan Kerajaan.
Organisasi
Kanada dan lembah Ohio mengharuskan kebijakan yang tekkan mengsingkan penduduk
asli Perancis dan Indian. Dalam hal ini, London menghadapi masalah Fundamental
dengan kepentingan koloni. Karena populasi yang meningkat dengan pesat, dan
kebutuhan tanah akan pemukiman, mereka mengkalim hak untuk memeperluas
perbatasan mereka kebarat sampai ke sungai Mississippi. Karena takut memicu
serangkaian perang Indian, pemerintah Inggris yakin lahan tersebut harus
dibebaskan secara bertahap. Membatasi pergerakan juga menjadi salah satu cara
untuk memastikan kendali kerajaan atas penduduk yang sudah ada sebelum mengijinkan pembentukan
pemukiman baru. Proklamasi kerajaan pada 1763 mencadangkan seluruh wilayah
barat antara Pegunungan Allegheny di Florida, Sungai Mississppi dan Quebec
untuk ditempati kaun pribumi amerika. Dengan demikian, Kerajaan berusaha
menyapu menyapu habis klaim ke-13 koloni atas daerah barat dan menghentikan
ekspansi barat. Walaupun tidak pernah diterapkan secara nyata, diamat warga
koloni aturan ini dianggap mengabaikan hak fundamental mereka untuk menempati
dan menguasai daerah barat.
Masalah
yang lebih serius dampaknya adalah kebijakan baru pendapatan inggeris. London
membutuhkan lebih banyak uang untuk menyokong kerajaannya yang berkembang dan
mengalami peningkatan keridakpuasan pembayar pajak didalam negri. Kelihatannya
cukup logis koloni bila koloni diharuskan membiayai pertahanan mereka sendiri.
Hal ini membutuhkan pajak baru yang dipungut oleh parlemen dengan mengorbankan
pemerintahan otonomi colonial. Langkah pertama adalah penggantian UU tetes tebu
( Molasses Act) yang dibuat pada 1733
dengan uu Gulan pada 1764, yang menerapkan bea cukai, atau pajak larangan atas
impo rum dan tetes tebu dari daerah non inggris. UU ini menyatakan keabsahan
impor rum dari luar negri; mengenakan
cukai yang cukup besar terhadap tetes tebu yang berasal dari manapun,
dan memungut pajak dari minuman anggur, kopi, sutera, dan sejumlah barang mewah
lainnya. Kerajaan berharap bahwa menurunkan cukai tetes tebu akan mengurangi
godaan menyelundupkan komoditas itu dari Hindia Barat jajahan Belanda dan
Perancis kepabrik penyulingan run New England. Pemerintah ingggris mendorong UU
Gula dengan penuh semangat, pejabat bea cukai diperintahkan untuk bertindak
lebih efisien. Kapal perang Inggris diperairan amerika diperintahkan untuk
menangkap para penyelundup dan “surat bantuan” atau surat perintah mengizinkan
petugas kerajaan untuk menggeledah bangunan yang dicurigai.
Baik
cukai yang diberlakukan dalam UU Gula dan cara untuk menerapkannya menimbulkan
kegemparan diantara pedagang New England. Mereka beranggapan sekecil apapun
cukai yang diberlakukan hal itu akan menghancurkan bisnis mereka. Pemilik took,
pembuat UU, dan majelis kota memprotes hokum tersebut. Pengacara colonial
memprotes “pengenaan pajak tanpa persetujuan rakyat” (taxation without resprestion), slogan yang dibuat untuk menyakinkan
warga amerika bahwa mereka ditindas oleh Negara induk mereka. Pada 1764,
parlemen mengeluarkan UU Mata Uang (Currency
Act) untuk “mencegah kredit uang kertas selanjutnya dikeluarkan dikoloni
Yang Mulian sebagai alat tukar yang sah”. Mengingat koloni merupakan daerah
deficit perdagangan yang selalu kekurangan mata uang, aturan ini menambah beban
serius terhadap ekonomi colonial. Satu lagi aturan yang ditentang dari sudut
pandang koloni adalah UU Seperempat (Quarter
Act), yang di sahkan pada 1765, yang mewajibkan koloni menyediakan
perlengkapan dan barak bagi serdadu kerajaan.
UU Stempel
Peraturan
pajak umum mencetuskan penolakan terorganisai paling besar. Dikenal sebagai UU
Stempel (Stamp Act), semua surat
kabar, surat kapal, pamphlet, surat ijin, surat sewa, dan semua dokumen legal
wajib membayar pajak stempel. Hasil yang dipungut petugas pajak Amerika akan
digunakan untuk “mempertahankan, melindungi, dan mengamankan” koloni. Karena
membebani seluruh pelaku bisnis, UU Stempel membangkitkan sikap bermusuhan dari
kelompok paling berkuasa dan vocal diantara penduduk Amerika, jurnalis,
pengacara, pemuka agama, saudagar, dan pebisnis, baik dari Utara dan Selatan,
maupun dari Timur dan Barat. Para saudagar terkemuka menyusun penolakan dan
membentuk asosiasi antiimpor. Perdagangan dengan Negara induk turun drastic
pada musim panas 1765, karena tokoh-tokoh terkemuka membentuk “Putra
Kemerdekaan” (Sons Of Liberty),
organisasi rahasia yang dibentuk untuk kmemprotes UU Stempel, terkadang melalui
cara-cara kasar. Dari massachussets hingga South Carolina, mafia emaksa petugas
cukai yang kurang beruntung untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya dengan
menghncurkan stempel yang dibenci itu. Perlawanan milityer secara efektif
menghapuskan UU tersebut.
Terpacu
oleh salah satu dlegasinya, Patrick Henry, House
Of Burgesses, meloloskan sejumlah populasi pada bulan Mei yang mencela
“pengenaan pajak tanpa persetujuan rakyat”
sebagai ancaman bagi kebebasan colonial. Resolusi itu menyatakan bahwa
warga Virginia, yang menikmati hak seperti halnya orang inggris, hanya dapat
dikenakan pajak oleh perwakilan meraka sendiri. Majelis Massachussets
menghimbau seluruh koloni menunjuk delegasi masing-masing untuk menghadiri
“Kongres UU Stempel” di New York, yang dilaksanakan pada oktober 1765, untuk
mempertimbangkan permohonan keringanan kepada Kerajaan dan Parlemen. Dua Puluh
Tujuh perwakilan dari Sembilan koloni menyambar kesempatan itu untuk memobilisasi
oopini colonial. Setelah perdebatan panjang, kongres mengadopsi sejumlah
resolusi yang “ tidak ada pajak yang pernah atau dapat dipaksakan kepada mereka
berdasakan konstitusi, melinkan oleh badan pembuat UU masing-masing”. Dan bahwa
UU Stempel mempunyai “kecenderunagn nyata untuk menghapus hak serta kebebasan
warga koloni”.
Pengenaan
Pajak Tanpa Persetujuan Rakyat
Dengan
demikian persoalan difokuskan pada masalah perwakilan. Warga koloni percaya
mereka tidak dapat diwakilkan kecuali mereka sendiri yang memiilih anggota
Dewan Perwakilan. Tetapi ide ini bertentangan dengan prinsip “perwakilan maya”
Inggris yang menyatakan bahwa setiap perwakilan Parlemen mewakili seluruh
kepentingan negri dan kerajaan, walau basisi pemilihnya hanya terdiri atas sejumlah
kecil tuan tanah dari distrik tertentu. Teori ini berasumsi bahwa setiap warga
Negara Inggris memiliki kepentingan yang sama dengan tuan tanah yang memilih
anggota parlemen. Para Pemimpin Amerika berdalih bahwa hubungan legal mereka
hanyalah dengan kerajaan. Rajalah yang menyetujui pembangunan koloni disebrang
lautan dan memperlengkapi mereka dengan pemerintahan. Mereka menyatakan beliau
adalah raja, baik di Inggris maupun dikoloni, tetapi bekeras bahwa Parlemen
Inggris tidak berhak memberlakukan hokum dikoloni, sebagai mana halnua
legislatur colonial tidak berhak menetapkan hukum di Inggris. Bagaimanapun juga
perjuangan mereka setara dengan Raja George III dan parlemen Faksi-faksi yang
bersatu dengan kerajaan umumnya mengontrol Parlemen dan merefleksikan tekad
sang raja menjadi monarki yang kuat.
Parlemen
inggris menolak pendapat colonial. Namun pedagang inggris yang merasakan
pengaruh boikot Amerika mendukung gerakan pembatalan UU tersebut. Pada 1766
parlemen berhasil membatalkan UU Stempel dan memodifikasi UU Gula. Meski
demikian, untuk memuaskan pendukung pengendalian atas pusat koloni, parlemen
menindaklanjuti aksi ini dengan berbekal ayat dari UU Deklarasi (Declaration Act) yang memastikan
otoritas parlemen dalam membuat hokum yang mengikat dikoloni “dalam kasus
apapun”. Warga koloni hanya memenangkan jeda sesaat dari krisis yang segera
terjadi.
UU Townshend
Tahun
1767 menghasilkan serangkaian peraturan lain yang menghidupkan kembali elemen
pertentangan. Charles Townshend, pejabat Departemen Keuangan Inggris, mencoba
program fiscal baru untuk menghadapi kekecewaan atas tingginya pajak diinggris.
Dengan niat menguranbgi pajak di Inggris melalui efisiensi pemungutan pajak
perdagangan Amerika, dia memperketat administrasi cukai dan memberlakukan cukai
pada impor colonial yang berasal dari Inggris Raya seperti kertas, kaca,
timbale, dan the. “UU Townshend” ini berdasarkan premis bahwa pajak yang
dibebankan pada barang yang diimpor oleh koloni itu legal sementara pajak
internal (seperti UU Stempel) itu legal. UU Townshend didesain untuk
meningkatkan pemasukan yang didapat digunakan untuk menyokong pejabat koloni
dan menopang tentara Inggris di Amerika. Sebagai balasannya, pengacara
Philadelphia, John Dickinson, dalam Letter
Of a Pennysilvania Farmer ( surat dari petani pennysilvania) mendebat bahwa
meski parlemen berhak mengendalikan perniagaan kerajaan, tetapi dia tidak
berhak memungut pajak dari koloni, tidak peduli cukai itu masuk masalah
eksternal maupun internal.
Reaksi
atas diberlakukannya UU Townshend walau tidak sedrastis UU Stempel, tetaplah
kuat terutama didaerah pesisir timur. Para saudagar lagi-lagi membuat
perjanjian tidak mengimpor dan masyarakat membuat produk lokal. Contohnya
memakai pakaian yang ditenun sendiri dan menemukan pengganti teh. Mereka
membuat kertas sendiri dan rumah mereka tidak dicat. Di Boston, pemaksaan
regulasi baru memicu kekerasan. Ketika pejabat cukai datang untuk menagih pajak, mereka diserang oleh penduduk
dan ditangani dengan kasar. Akibat pelanggaran ini dua resimen inggris
dikerahkan untuk melindungi para petugas pajak. Kahadiran tentara inggris di
boston laksana mengundang kekacauan, pada 5 Maret 1770, pertentangan ini
berkembang menjadi kekerasn, dan terjadi penembakan tiga warga boston oleh
tentara inggris sehingga dikenal dengan sebutan “pembantain boston”
Samuel Adams
Pemimpin
kelompok radikal yang paling efektif adalah Samuel Adams dari massachusetts,
yang bekerja tanpa lelah demi satu tujuan ahir, “Kemerdekaan”. Semenjak lulus
dari Universita Harvard tahun 1743, Dia bisa dibilang menjadi pelayan publik
dalam beberapa hal cerobong asap, pemungut pajak dan moderator rapat kota. Dia
ingin memebebaskan orang-orang dari kekaguman mereka terhadap sosok sosial dan
politik yang lebih berkuasa. Menyadarkan mereka akan kekuatan dan pentingnya
diri meraka sendiri dengan demikian mengguagah mereka untuk membbuat sesuatu. Dengan tujuan itulah dia
menulis artikel disurat kabar dan berpidato diapat kota. Pada 1772, dia
membujuk rapat kota boston untuk memilih “Komite Koresponden” untuk menyatakan
hak dan keluhan warga koloni. Komite ini menentang keputusan inggris untuk
membayar gaji hakim dari pendapatan cukai, mereka takut para hakim takkan
menjadi menggantungkan pendapatannya pada legislatur dan tidak lagi bertanggung
jawab atas keputusannya, hal ini dapat memicu kesewenag-wenangan pemerintah.
Komite ini berkomunikasi dengan koloni lain sehingga tumbuh menjadi organisasi
revolusi yang efektif, meski demian adams belium dapat melakukan revolusi
dengan organisasinya ..
Pesta Teh Boston
Pada
1773 Inggris raya memberikan isu yang sempurna bagi adams dan para sekutunya.
Persekutuan Hindia Timur mendapati dirinya berada dalam krisis financial, dan
kemudian memohon pada pemerintahan Iggris dan kemudian memberinya monopoli atas
semua teh yang diekspor kekoloni. Dipelabuhan pusat dan dilam pantai Atlantik,
persekutuan Hindia Timur dipaksa untuk mengundurkan diri. Kiriman teh yang baru
datang entah didagangkan atau digudangkan. Dengan sokongan gubernur perdagangan
mereka bersiap mendatangkan muatan yang akan tiba tanpa memedulikan pihak
oposisi, pada malam 16 Desember 1773, sekelompok orang menyamar sebagai Indian
Mohawk dipimpin oleh Samuel Adams menaiki tiga kapal inggris yang terlambat dan
membuang muatan teh mereka di boston. Persekutuan Hindia Timur telah
melaksanakan perintah parlemen, jika perusakan teh tidak dihukun, itu berarti
parlemen harus mengakui pada dunia bahwa mereka tidak punya control atas warga
koloni.
UU Disipliner
Parlemen
menjawab dengan hokum baru yang disebut “pemaksaan” atau “aksi yang tidak dapat
ditoleransi”. Pertam-tama otoritas pelabuhan boston menutup pelabuhan boston
sampai semua teh itu dibayar. Aksi ini menutup akses kahidupan kota karena
menutup akses pelabuhan di boston. UU lainnya membatasi kewenangan pejabat
local dan melarang hampir semua rapat kota yang diadakan tanpa persetujuan
gubernur. UU seperempat menggharuskan pejabat local menyediakan markas yang
sesuai untuk sedadu inggris. UU Quebec diloloskan pada saat yang hampir
bersamaan, memperluas batas provinsi diselatan quebec hingga kesungai Ohio. UU
Quebec belum diloloskan sebagai suatu hokum, warga Amerikaa menghubungkannya
dengan UU Disipliner dan semua itu kemudian dikenal dengan “Five Intolerable” (lima UU yang tidak
dapat ditolelir).
Sesuai
saran Virginia House of Burgesses, perwakilan koloni bertemu di Philadelphia
pada 5 september 1774 untuk membicarakan situasi koloni yang menyedihkan.
Delegasi yang menghadiri pertemuan ini dikenal sebagai kongres Kontinental
Pertama. Hanya Geogia yang gagal mengirim delegasi, total 55 delegasi itu cukup
besar untuk memunculkan perbedaan pendapat, tapi cukup kecil untuk perdebatan
sengit dan aksi yang efektif. Asosiasi continental segera mengambil alih kepemimpinan
koloni, mengimbau organisasi local untuk segera mengghentikan sisa-sisa
kekuatan kerajaan. Dipimpin oleh pemimpin prokemerdekaan, meeka mendapat
sokongan tidak hanya dari segelintir orang kaya, tapi juga dari anggota
masyarakat professional (terutama pengacara), sebagian besar dari koloni petani
di Selatan dan beberapa saudagar. Mereka mengintimidasi orang-orang yang
ragu-ragu untuk bergabung dengan pergerakan popular ini dan menghukum musuh,
mereka mengumoulkan suplai militer dan memobilitas serdadu, mereka juga
menyebarkan opini public dengan semangat revolusi.
Revolusi Dimulai
Jendral
Thomas Gage, tugas utamanya adalah menegakan UU Disipliner. Ketika menddengar
kabar bahwa warga koloni massachusettes mengumpulkan mesiu dan perlengkapan
militer di kota Concord, 32 KM jauhnya dari sana, Gage segera mengirimkan
pasukan kecilnya yang begitu kuat untuk menyita persediaan tersebut. Setelah
semalam berjalan, serdadu Inggris tiba di desa Lexington pada 19 April 1775 dan
melihat gerombolan menyeramkan 77 minuteman (pasukan yang siap berperang dalam
satu menit). Pemimpin pasukan ini John Parker, menyuruh pasukannya jangan
menembak kecuali ditembak lebih dahulu. Walaupun pecah konflik bersenjata, ide
untuk memisahkan diri dari pemerintahan inggris masih banyak ditentang oleh
anggota continental. Pada bulan juli mereka membuat petisi Perdamaian (The Olive Branch Petition) yang memohon
kepada raja untuk mencegah aksi-aksi kekerasan lebih lanjut hinga mereka dapat
menghasilkan beberapa perjanjian. Raja George menolaknya, pada 23 Agustus 1775
malah memproklamirkan pemberontakan yang dilakukan oleh koloni. Inggris Raya
menginginkan kesetiaan koloni Selatan, sebagian karena keyakinan mereka atas
perbudakan. Banyak koloni selatan beranggapan bahwa pemberontakan melawan
Negara induk dapat memicu pemberontakan budak. November 1775 Lord Dunmore,
gubernur Virginia , mencoba meredam kekuatan itu dengan menawarkan kebebasan
bagi para budak yang ingin berperang membantu inggris. Gubernur Nort Carolina
juga mengimbau warganya untuk tetap setia pada kerajaan, ketika 1500 orang
menjawab panggilanMartin, mereka dikalahkan oleh tentara Revolusoioner sebelum
tentara inggris bisa tiba disana untuk memberikan bantuan.
Akal Sehat Kemerdekaan
Pada
Januari 1776, Thomas Paine, teroris radikal dan penulis yang datang ke Amerika
dari Inggris pada 1774, mempublikasikan risalah 50 halaman berjudul (Common Sense) Akal Sehat yang terjual
100.000 kopi dalam tiga bulan. Paine menyerang gagasan tentang monarki
berdasarkan warisan dan menyatakan satu orang jujur lebih berarti bagi
masyarakat daripada seluruh penjahat bermahkota yang pernah hidup.
Secara
garis besar hasil karya Jefferson, Deklarasi Kemerdekaan, yang disahkan pada 4
juli 1776, tidak hanya mengumumkan lahirnya Negara baru, tetapi juga memaparkan
filofosi kebebasan manusia yang akan menjadi kekuatan dinamis diseluruh dunia.
Deklarasi ini diambil dari filosofi politik Pencerahan Perancis dan Inggris.
Tetapi pengaruh yang paling menonjol adalah Second
Treatise on Government, karya John Locke. Locke mengambil konsep hak
tradisional orang inggris dan mengubahnya menjadi hak asasi manusia yang universal.
“Kami menyatakan kebenaran ini
adalah nyata, bahwa setiap manusia diciptakan sederajat. Sang Pencipta dengan
hak-hak yang tidak dapat dihapuskan, diantaranya yaitu kehidupan, kebebasan,
dan mengejar kebahagiaan. Bahwa untuk mendapatkan hak-hak ini, pemerintah
dibentuk dari rakyat, memperoleh kekuasaan mereka dari persetujuan mereka yang
diperintah, bahwa kapanpun bentuk pemerintahan menghancurkan tujuan itu,
masyarakat berhak mengganti atau menghapuskannya dan membentuk pemerintahan
baru, meletakan landasan pada prinsip-prinsip semacam itu dan mengatur
kekuatannya sedemikian rupa yang akan sangat memengaruhi Keselamatan
Kebahagiaan mereka” (John Locke)
Jefferson
mengkaitkan perinsip Locke secara langsung dengan situasi yang dihadapi koloni.
Berjuang demi kemerdekaan Amerika sama dengan berjuang bagi pemerintahan
berdasarkan kesepakatan bersama, menggantikan pemerintahan kerajaan yang telah
bersatu dengan yang lain untuk menundukan kami dan yurisdiksi yang asing bagi
konstitusi kami dan tidak diakui oleh hokum kami.
Kemenangan dan Kekalahan
Desesmber
itu tentara Washington nyaris ambruk, sebab perbekalan dan bantuan yang
dijanjikan gagal terwujud, dan kesempatan mengancurkan Amerikapun gagal
terwujud, dengan memutuskan menunggu sampai musim semi untuk melanjutkan
pertempuran. Pada natal 25 Desember 1776, Washington menyebrangi sungai
Delaware, di Utara Trento, New Jersy. Dinihari esoknya tentara mengejutkan
garnisun inggris disana dan berhasil menawan lebih dari 900 orang, pada 3
Januari 1776, Washington menyereng inggris dan Princeton, merebut kembali
hampir wemua teritori yang tadinya diduduki inggris. Namun pada September 1777,
Howe mwngalahkan tentara Amerika di Brandywine, Pennsylvania dan memaksa
pembubaran Kontinental. Lembah Forge merupakan kemunduran terparah bagi
Kontinental Washington, namun pada tahun 1777 terbukti menjadi titik balik
perang. Jendral Inggris John Burgoyne pindah keselatan dari Kanada berusaha
mengisi New Yorek dan New England lewat dananu champlain dan sungai Hudson.pada
6 Agustus di Oriskany, New York, Bourgoyne memobilisasi sejumlah kaum loyalis
dan pribumi Amerika, namun pasukan Amerika yang lebih berpengalaman berhasil
menghentikan serangan mereka. Pasukan Burgoyne pindah ke sisi barat sungai
Hudson dan menyerang Albany, serdadu Amerika sudah menunggunya di bawah
pimpinan Benedict Arnold, yang nantinya menghianati Amerika di West Point, New
York, tentara colonial berhasil memukul tentara Inggris.
Aliansi Prancis Amerika
Persekutuan
Prancis-Amerika segera memperluas konflik, pada Juni 1778 kapal Inggris
menembak kapal laut Perancis, dan kedua Negarapun berperang. Pada 1780 Inggris
Raya mendeklarasikan perang terhadap Belanda karena tetap melanjutkan hubungan
dagangna dengan Amerika. Kombinasi kekuatan eropa ini dipimpin oleh Perancis
menjadi ancaman yang palling berbahaya dari koloni Amerika itu sendiri.
Inggris Pindah Keselatan
Dengan
terlibatnya perancis inggris meningkatkan kampanye mereka dikoloni selatan
karena masih yakin bahwa koloni slatan adalah kaum loyalitas. Peperangan
dimulai pada ahir 1778 dengan menguasai savannah, Georgia. Tak lama setelahnya
serdadu dan angkatan laut inggris berkumpul di Charleston, South Carolina,
pelabuhan utama di selatan. Pada 12 Mei 1780, Jendra Benjamin Lincolin
menyerang kota beserta 5000 pasukannya kekalahan terbesar Amerika sepanjang
peperangan.
Tetapi
perubahan keberuntungan justru meningkatkan pemberontakan warga Amerika. Warga
South Carolin mulai menjelajahi daerah pedesaan, menyerang jalur pasokan
ingggris. Pada Juli, jendral Amerika, Horatio Gates yang trelah membentk
pasukan cadangan yang terdiri atas milisi yang tidak terlatih, bergegas menuju
Camden, South Carolina, untuk menyerang pasukan inggris yang dipimpin oleh
jendral Charles Cornwalls.
Kemenangan Kemerdekaan
Pada
juli 1780, raja Perancis Louis XVI mengirim pasukan ekspedisi berjumlah 6000
orang ke Amerika di bawah pimpinan Comte Jean de Rochambeau. Selain itu armada
perang Perancis menyerang kapal Inggris dan memblokade bala bantuan serta
perbekalan tambahan bagi pasukan Inggris di Virginia.angkatan darat dang
angkatan laut Perancis dan Amerika yang berjumlah 18.000 orang bolak-balik
beradu senjata di Cornwalls selama musim panas hingga musim gugur. Akhirnya
pada 19 Oktober 1781, setelah terjebak di Yorkstown di dekat muara Teluk
Chesapeake, Cornwalls menyerahkan angkatan daratnya beranggotakan 8.000 tentara
Inggris.
Walaupun
kekalah Cornwalls tidak segera menuntaskan perang yang terus berlangsung tanpa
kejelasan selama hampir dua tahun, pemerintah Inggris yang baru memutuskan
untuk menawarkan negosiasi damai di Paris pada awal 1782. Pada saat itu Amerika
diwakili oleh Benjamin Franklin, John Adams, dan John Jay. Pada 15 April 1783,
kongres menyepakati traktat terahir. Ditandatangani pada 3 September, traktat
Paris mengakui kemerdekaan, kebebasan dan kedaulatan penuh 13 negara bagian
yang dulunya disebut Negara koloni. Negara serikat baru terentang kebarat sampai
sungai Mississipi, keutara sampai Kanada dan keselatan sampaiFlorida, yang
dikembalikan ke Sepanyol. Koloni muda yang disebut oleh Richard Henry Lee lebih
dari tujuh tahu lalu akhirnya menjadi Negara yang bebas dan merdeka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar